Selamat malam, ingatanku
Sepasang mata milikku berhenti pada lemari pendingin, bola mata kompak mencari brand ice cream ‘Yah! Itu!’ Bibirku pun segera mengembang menyimpulkan senyum..

“Aku tau kamu marah,dan aku-pun tau kamu lebih memerlukan ‘ini’ dari pada aku”

Dan.., aku Lupa- saat itu kamu lebih manis dari sebatang Conelo…

Selamat siang, kenanganku
Transjakarta melaju cepat dengan beberapa penumpang termasuk aku, pengarang 4 musim bersama peter cetera menemani melintasi jalan bebas hambatanku siang ini

“Jangan bilang kamu naik busway! Turun dihalte berikutnya, dan setelah itu tunggu aku disana”

Dan.., aku Lupa- kadang-kadang kamu bisa menjadi orang yang sangat membosankan..

Selamat pagi, dokumentasiku
Gerimis dini hari tidak menghambat jalannya upacara sarapan pagiku.
Indra herlambang menghiasi layar kaca. Mengumumkan bahwa hari ini artis yang dimiliki indonesia sedang merayakan hari lahirnya.

“Banyak harapan ada didalam diri kamu, yang mungkin kamu ga pernah sadar,tapi lebih dari itu yang harus kamu sadari hanya..aku sayang kamu. Happy birthday my angel”

Dan.., aku Lupa- saat itu kamu tidak mengenal diriku sebaik aku mengenal kamu.. :’)
***

Berperang melawan perasaan, risau-pun menyerah. Merasa Bayangan mulai mengikuti, samar menyadari terang telah menunggu langkah untuk kembali menjadi pribadi yg normal.

Bagaimana esok ? - Aku hanya tau, aku akan kembali merasa lapar. :D

Thanks for all the memories
That suddenly remembered ..

‘Aku mengingat-mu seutuh aku melupakanmu’

-Silvi,22

(Masih) DiHati

Selamat pagi, kesedihanku.

Aku bangun pagi ini dalam balutan separuh nyawaku.

Sadar bercermin, aku hampir menyerupai penghuni panti rehabilitasi.

Mengapa hujan ? apa Tuhan tau apa yang aku rasakan ?

Marah? pada siapa?

Berteriak? tentang apa? kebodohan atau penyesalan yang telah berlalu ?

bahkan segelas susu pun tidak berhasil meredakan air mataku.

“Didetik dan saat ini, aku hanya butuh mengembalikan kesadaranku”

Tidak ada yang berubah, ketika aku sedih.

Tidak akan terjadi apapun ketika air mataku tidak kunjung mereda.

dan tidak akan ada yang mengerti, ketika aku mengalami penyesalan

Namun…., Bagaimana bisa aku menyeka air mata dengan hanya berkata

“itu sudah berlalu, dan itu hanya sebuah kenangan yang jika kamu ingin simpan tersenyumlah! dan anggap itu sebagai hiasan hitam putih dalam perjalanan kehidupan”

Dariku, selain penyesalan tidak akan ada kalimat ‘Maaf’

Seperti hujan yang tidak perduli pagi atau malam, aku hanya tahu, begitu awan hitam pekat melukis diudara setelah itu aku baru tahu hujan akan turun.

Untukmu, aku bawakan pesan singkat, jika mengenangmu terlukis awan hitam dihati, aku lebih memilih membuang itu dalam semangkuk bubur dengan limpahan daun seledri.

Pudarnya penyesalan, redanya air mata hanya menunggu kabar baik darimu..

‘Berbahagialah kamu karna aku pun sudah bahagia..

‘Tersenyumlah kamu karna aku pun sudah tertawa..

Angin dan hujan akan membawa pesan ini untumu..’Rindukan aku..’

-Silvi,22