Selamat pagi, kesedihanku.
Aku bangun pagi ini dalam balutan separuh nyawaku.
Sadar bercermin, aku hampir menyerupai penghuni panti rehabilitasi.
Mengapa hujan ? apa Tuhan tau apa yang aku rasakan ?
Marah? pada siapa?
Berteriak? tentang apa? kebodohan atau penyesalan yang telah berlalu ?
bahkan segelas susu pun tidak berhasil meredakan air mataku.
“Didetik dan saat ini, aku hanya butuh mengembalikan kesadaranku”
Tidak ada yang berubah, ketika aku sedih.
Tidak akan terjadi apapun ketika air mataku tidak kunjung mereda.
dan tidak akan ada yang mengerti, ketika aku mengalami penyesalan
Namun…., Bagaimana bisa aku menyeka air mata dengan hanya berkata
“itu sudah berlalu, dan itu hanya sebuah kenangan yang jika kamu ingin simpan tersenyumlah! dan anggap itu sebagai hiasan hitam putih dalam perjalanan kehidupan”
Dariku, selain penyesalan tidak akan ada kalimat ‘Maaf’
Seperti hujan yang tidak perduli pagi atau malam, aku hanya tahu, begitu awan hitam pekat melukis diudara setelah itu aku baru tahu hujan akan turun.
Untukmu, aku bawakan pesan singkat, jika mengenangmu terlukis awan hitam dihati, aku lebih memilih membuang itu dalam semangkuk bubur dengan limpahan daun seledri.
Pudarnya penyesalan, redanya air mata hanya menunggu kabar baik darimu..
‘Berbahagialah kamu karna aku pun sudah bahagia..
‘Tersenyumlah kamu karna aku pun sudah tertawa..
Angin dan hujan akan membawa pesan ini untumu..’Rindukan aku..’
-Silvi,22



